Aku Berbeda

Aku berbeda,
beda dengan orang yang ada.Semua perbedaanku dengan orang jauh lebih berbeda dengan apa yang kamu rasa.
Aneh memang dengan apa yang beda dalam diriku ini.
Tapi apa bedaku ini cukup aku yang tau.
Jika kamu ingin tau,
coba perhatikan apa yang beda pada diriku ini.

“Kejar pengalaman katanya untuk masa depan”

Lama saya murtad tidak menulis, sekarang saya mencoba kembali lagi untuk belajar demi pengalaman. My be yes my be no. 😀

Iya, saya sering mendengar kata-kata ini dari orang. Bahkan ada pepatah yang mengatakan bahwa “pengalaman adalah guru terbaik”. Entah iya entah tidak, tapi saya sekarang menjalankan aktivitas demi sebuah pengalaman yang katanya akan berguna kelak.

Akhir-akhir ini saya disibukkan dengan organisasi pergerakan mahasiswa dibidang jurnalistik dan Advokasi. Dua sekaligus dan ini demi pengalaman. Tidak hanya itu, katanya ini adalah proses belajar yang akan berguna tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga orang lain. Tak jarang saya terkadang merasa bosan dengan semua ini tapi saya selalu dimotivasi dengan kata “DEMI PENGALAMAN” dan akhirnya saya belajar untuk mencintai apa yang saya miliki sekarang. Tertantang untuk menjalakan ini semua dengan harapan kelak PENGALAMAN ini akan berguna. dan semoga tuhan meridhoi jalan yang terpilih ini. Amin…

 

Tanpa judul

Gambar

Saya berjanji, akan saya bangun negeri ini.Saya berjanji, akan saya berantas kemiskinan negeri.
Dan saya berjanji, saya ciptakan lapangan pekerjaan.
Saya berjanji… saya berjanji..

Ahh…!
Telah bosan rakyat ini mendengar janji busuk kau.. Janji dari mulut manis kau..
Kami pilih kau meskipun kami tak mengenal kau.
Kami anjung2kan kau meski kami berkemelut dengan matahari.. Siapa kau! dan siapa kami!

Kau datang ibarat hujan di tengah kemarau, memberi kesejukan sementara.
Ketika kau duduk di kursi hangat sana dan merasakan kekuasaan yg kau miliki..
Kau lupa dengan kami, Kau lupa siapa diri mu sebelumnya, kau lupa dengan janjimu.
Dan bahkan kau lupa dengan siapa yang membangun bangsa ini.

*Buat para pejabat

Kenapa selalu saya Buk dosen??!!!

Saya mau nulis lagi deh, muda-mudahan gak nyampah..

Yap, disaat kawan-kawan lain pada liburan, nah saya masih belum. karena saya masih terikat perjanjian dengan pihak kampus.
Sekarang saya lagi ikut Semester Pendek (SP), Maklum.. IPK saya masih dibawah harapan (3.03). Dan saya mencoba perbaiki nilai yang semester 1 & 2 yang sedikit hancur. hehe
Selama SP ini saya menemukan 3 orang dosen yang berbeda-beda wataknya. Inisialnya MS, LE dan NO. Saya mulai dari nama yang pertama.
MS merupakan dosen yang paling terkenal tidak disukai mahasiswa, karena dia setiap kuliah selalu menyuruh membikin tugas, tugasnya nyatat dan nyatat. Yang menurut saya apa guna mencatat mata kuliah yang udah di pelajarin, kan udah dibaca. Itu adalah cara kuno dalam belajar.

Entah apa salah dan dosa saya dengan dosen yang satu ini, sepertinya suka sekali membuat saya risih berada di dalam kelas. pada hal saya sendiri tidak pernah telat, tidak pernah absen, selalu bikin tugas dan selalu duduk di depan.
Pernah waktu itu saya masuk kelas pukul 7:29 pagi, dan memang saat itu beliau sudah di dalam kelas. Awalnya saya tidak di perbolehkan untuk mengisi absen karena beliau kira saya telat. Ya yang namanya hak saya dan saya anggap benar tidak mungkin saya membiarkan hal itu terjadi. Toh saya tidak telat, malah lebih cepat 1 menit yang kala itu masuk jam 7:30 pgi.
Dosen MS : Gangga Febri rahmanda, kamu telat tadi?!
saya: enggak buk.
Dosen: kalo kamu tidak telat kenapa absen kamu tidak terisi?!
saya: *Sedikit menaikkan nada bica. Saya datang jam 7:29, ibuk yang terlalu kepagian datang dan langsung menyuruh anak-anak yang datang lebih pagi mengisi absen dan ibuk ambil absen lebih dulu sebelum jam 7.29. saya tidak telat, malah saya lebih cepat 1 menit dari waktu yang tepat. ibuk yang asik telponan ketika saya datang. saya tidak telat!!
dosen: *DIAM

Dan alhasil absen saya tidak jadi di coret 😀 Bukan saya bermaksud melawan tapi saya sudah terlanjur tidak suka dengan kelakuan dosen yang senang sekali melihat mahasiswanya kesusahan. Membuat aturan sesukanya, selalu merasa benar dan bikin tugas yang gak penting.
Saya teringat kata Sho Hok Gie “Guru bukanlah dewa dan mahasiswa bukanlah kerbau”.

Dan masih dosen yang sama, ketika saya sudah bersemangat memperhatikan beliau menerangkan kuliah. saya langsung ditunjuk dan ia mengatakan “kamu maju kedepan, tulis!! loyo aja kamu” ya ampun… Teman di belakang saya langsung tertawa, entah apa maksud tertawaanya, mungkin karena mereka tau dosen yang itu terlalu cinta dengan saya yang berwajah hampir GANTENG ini.
Kali ini dengan tersenyum lemas saya maju dan menuliskan apa yang disuruh.

Lanjut ke dosen LE, huft…
Kalo satu ini ampun deh, teman-teman meledek saya kalo saya adalah anak dosen tersebut. Dosen yang satu ini apa lagi, apa-apa saya yang selalu jadi contoh. iya kalo contohnya yang baik, tapi ini enggak. Dicontohin preman lah, gak punya otak lah, gak patuh lalu lintaslah. Iyaa, itu semua hanya contoh, tapi saya gak tahan dengan tertawaan ledekan teman-teman. Ada juga, kalo ada yang yg terjadi diluar kelas, tuh dosen langsung menunjuk ke saya dan jadi bahan tertawaan lagi. Saya bisa kok menjawab pertanyaan yang di berikan dosen, saya aktif. tapi apa salah saya??!!
Saya tau kalo saya memiliki kharisma yang membuat para wanita selalu terlebih dahulu melihat wajah saya dari yang lain. *asik  Tapi gak ibuk-ibuk juga, bisa di katakan nenek lah.
Tapi menghadapi itu saya tetap tersenyum kok, walaupun dalam dada sudah membara.

Nah, kalo dosen yang satu ini alhamdulillah dosennya kayak jatuh cinta deh sama saya.. hahahaha
Buk NO ini adalah dosen yang pemurah hati, gak pelit nilai dan selalu tenggang rasa dengan mahasiswanya. Dan dengan ibuk ini sepertinya saya selalu menonjol dari teman lain, dikit-dikit gangga bantuin ibuk ya photo copy bahan ini.. lagi dan lagi begitu.
Gangga nantik ibuk datang agak telat kasih tau kawan yang lain ya.
Mmmh, yang ini saya maklumin karena ibuknya baik.
Pernah suatu hari, saya datang agak telat. Ternyata si ibuk udah nanya-nanya saya “Gangga mana?” itu kata teman saya loh. Dan pas saya udah datang “ini gangga baru datang” dan saya langsung tersenyum manis kepada dosen NO tersebut.
Ya ampun.. demi apa saya di cariin dosen kayak gini.

Begitulah tragedinya selama ini. Ada juga sih hikmahnya dibalik sifat tersebut. Dan saya juga kadang merasa bangga, itu berarti dosen tau dengan saya, dosen sayang dengan saya. Tapi ada gak enak juga di ledekin terus.

Apapun itu dan siapa pun dosennya saya berharap dosen tersebut benar-benar menilai objektif nantinya. Dan jika objektif saya yakin mendapatkan nilai yang memuaskan. 🙂

Terkesan Curhat banget ya? maaaf ya..
Pesan saya, dosen dalam belajar tidak selalu menyuruh mahasiswa mencatat dan mencatat melulu, ada baiknya dosen menanamkan demokrasi di dalam kelas agar mahasiswa lebih interaktif lagi. Jika interaktif maka akan memancing mahasiswa untuk lebih aktif. Dan jika banyak yang aktif maka akan mendorong meraka untuk belajar. Jadi dosen tidak perlu lagi menyuruh mahasiswanya bikin tugas catatan dengan maksud agar mahasiswa belajar.
Sekian..

Susah Senang Setahun Menjomblo (S3M)

Uyeeaahh..
Kali ini saya Mau curhat tentang kehidupan menjadi seorang jomblo yang memiliki wajah hampir ganteng seperti saya ini. Eh, tapi enak nya ngomong gak pake saya atau aku lah ya. pake gue biar lebih GANTENG. Apa hubungannya antara gue dengan ganteng? 😀

Ok kita mulai…..
Tepat di bulan Agustus besok gue pas setahun menjadi seorang jomblowan. Kerenkan?
Bukan karena gue gak laku guys, tapi emang belum nemuin yang cocok aja.

Setahun ini terasa aneh banget rasanya dekatin cewek. Mental homo lu kumat kali bro… HEH!! Enggak ya.
Hampir setahun gue susah dapatin cewek yang menerima gue apa adanya itu terasa susah, biasanya nih cewek kalo udah ngobrol sama gue aja pasti tu do’i ada feel gitu deh. (hahahah, enggak kok).
Tapi sekarang udah nyaman dan nyambung pun gak nempel-nempel. kasih Lem super ajee..! Dan sekarang kalo lagi dekat ama cewek pas guenya suka nah si do’i yang gak mau, pas ceweknya suka guenya yang mau. -_-

Aneh memang, tapi memang begitulah ceritanya.
Selama ngejomblo emang sih terasa ada yang kurang, ibarat sambal mak gue tanpa penyedap rasa. Tetap terasa enak meskipun akan lebih enak pake penyedap rasa. 😀
Yah, gue masih enjoy dengan status ini selama masih bisa menyibukkan diri dengan hal-hal positif. Intinya sih masih sering nongkrong dengan teman-teman.

Enaknya jadi jomblo yang gue rasain :

  1. Setiap malam minggu gue bisa selalu dengarin curhat orang tua.
  2. Selalu ada waktu buat teman.
  3. Gak boros *gue gak pelit yee
  4. Bisa fokus belajar
  5. Dan banyak lagi

Tapi ada juga gak enaknya, gak ada merhatiin, hape sepi dan yang setia nge-sms tiap hari cuma operator doang. Wuiih, KASIAAN..

Dan ada juga nih bermacam-macam komentar, diantaranya : teman gue yang bilang “lu ganteng, tapi cewek gak punya”, hahahah hidung gue mekar.
Mak gue “Anak gadis yang baik emang gak mau keluar malam minggu ya” *huaaaa :(Yang lebih parahnya lagi adek gue yang sekarang mau naik kelas 3 SMA, yang udah bisa bilang “makanya bang pacaran biar bisa malam mingguan” *emosi

Buat para jomblo yang lain, tetap selow guys. hidup lo gak bakal kesepian tanpa pacar selama lo masih melakukan kesibukan, apalagi yang bermanfaat.
Tetap enjoy, keep doing to the best. 🙂

Itu dulu deh yang bisa gue curhatin, yang poin-poin mendalam ntar deh pas malam jum’at kliwon. -____-
Sekian

Tidak Selamanya Buruk Akan tetap Buruk

Bermacam-macam kelakuan orang di dunia ini, mulai dari terbaik hingga kurang ajar. Tapi yakinlah tidak semua keburukan mereka terlalu buruk untuk kita lihat.

Saya menulis ini karena banyak saya lihat dan dengar seseorang menjauhi temannya hanya karena keburukannya, keburukan dari segi apa pun. Mereka tidak menyadari atau mereka sadar tapi seolah tidak peduli bahwa di balik sisi buruk seseorang tersimpan sebuah kebaikan yang bisa menjadi sebuah miracle dalam kehidupan kita. Jika memang mereka itu buruk perangai, rangkul mereka. Jangan jauhi hanya karena kamu takut akan terpengaruh.
Jangan jauhi orang disekitarmu seperti apa pun dia. Pahami karakternya dan setelah kamu mengetahuinya pahami dia dan jangan sekali-sekali masukkan kedalam hati, karena itu semua hanya akan menjadi penghalang bagimu, hati mu kusut jalan mu juga akan kusut. Ambil segi positif dari dirinya dan tetaplah berhati-hati.

Ini hidup saya, bebas berteman dengan siapa pun. Orang bilang bilang “Siapa teman mu sekarang akan menentukan siapa kamu di masa depan”. Jadi kalau dia berteman dengan maling apakah dia akan jadi maling? dan jika berteman dengan orang pemalas akan tidak sukses dimasa akan datang? dan jika berteman dengan dengan orang rajin belajar akan membawa kebaikan pada diri dan bisa membawa masa depan cerah karena terbawa rajin?
Mungkin ada benarnya tapi belum tentu, semua tergantung dari diri kita sendiri.

Itu pandangan mereka, apakah kita selalu dan selalu dengan orang-orang itu saja? tentu tidak, pakai semua teman mu (!) Kelak akan bisa membantumu.

*yang paham mungkin hanya orang tertentu saja

Masa Laluku, dan Hidupku yang Sekarang

Aku cemburu melihat orang sudah berhasil, sementara Aku masih belajar dibangku kuliah yang membosankan tapi penuh ilmu dan pengalaman ini. Aku selalu berharap suatu saat aku bisa melebihi orang-orang itu, tapi aku benar-benar tidak sabar lagi kapan waktu itu akan datang.

Aku merasa hidup yang aku jalani penuh dengan tuntutan. Bukan hanya tuntutan diri saja, tapi tuntutan orang sekelilingku. Berada dikampung yang begitu membanggakan orang berseragam sangat menyakitkan bagiku. Betapa tidak, anak yang sudah memakai seragam seperti tentara, polisi dan lain-lainnya begitu diagungkan di kampungku. Aku benar iri dan risih dengan keadaan seperti ini terus.

Aku bukannya tidak memiliki cita-cita seperti mereka, bahkan aku lebih dari pada mereka yang menginkan masuk dari Tamtama atau Bintara. Sedangkan aku bercita-cita sangat tinggi dan sulit aku capai. Menjadi seorang perwira tinggi di sebuah institusi militer. Yah, jendral lah impianku. Aku juga pernah mengikuti tes instusi ini dengan semangat, usaha dan do’a, namun hasilnya aku tetap saja duduk dibangku kuliah.

Saat kegagalan itu memang cuma semangat dan dukungan orang tua yang mampu menenangkan ku, mereka benar-benar semangat hidupku. Sejak saat itu aku tidak diizinkan lagi ikut menjadi calon jendral itu, mereka menyarankan ambil yang rendah saja, pangkat bukanlah segalanya. Aku memang orang yang sedikit gampang stres, namun tidak terlalu parah untuk seorang anak laki-laki, aku masih bisa tersenyum juga kok. 🙂 namun tetaplah menyakitkan yang membuat badan ku sedikit kurus waktu itu.

Aku ikutin saran mereka karena memang ekonomi keluarga dibawah rata-rata, yang terpenting saat itu adalah bagaimana secepatnya dapat pekerjaan yang memiliki jaminan hingga tua. Namun tetap saja gagal ketika hampir akhir-akhir tes. Ini menjadi problema bagi diriku sendiri, aku tidak bodoh, aku punya kemampuan, fisikku mumpuni, tapi kenapa belum juga? Apa lagi kekurangan ku.
Hingga sampai ada yang mengatakan, “tanpa uang semua sia-sia saja”, kata-kata itu begitu menyakitkanku. Kemana aku harus mencari uang sedangkan ayah hanyalah seorang supir truk, dan ibu berjualan kecil-kecillan di rumah. Kemana nasib hendak dikadukan?
Mungkin semua tau, di dunia modern seperti ini uang adalah hal segala-galanya. Tanpa uang banyak yang beranggapan hal itu sia-sia, mau nyari uang ya harus pakai uang dulu. Galau merana, apa lagi yang hendak aku lakukan.

Orang tuaku menyarankan menjual atau menggadaikan tempat tinggalku sekarang. Apa itu jalan keluar? Dengan mentah-mentah aku menolak semua itu, masuk dengan cara haram maka haramlah gaji yang aku makan nanti, sudah jelas hukum tuhan yang amat berat menghukumku.
Dengan semua hal itu, aku memutuskan untuk menjalani kuliah ku yang sekarang, setamat kuliah nanti akan ku coba lagi dengan kemampuan yang lebih dan keyakinan bahwa aku bisa masuk dengan bersih. Bahkan jika nanti aku tidak lulus juga, aku yakin jalan tuhan lebih baik itu.

Tapi, inilah masalahnya sekarang. Tuntutan orang sekampung sangat berdampak psikologis bagiku, mereka selalu bertanya kenapa tidak masuk itu? Kenapa harus kuliah? Kenapa ambil jurusan itu. Ya tuhan…. Apa daya ku? Betapa lemah diriku terhadap pertanyaan itu.
Namun sekarang dengan semangat aku terus melangkah dibangku kuliah, akan aku buktikan kepada mereka pilihanku saat ini akan lebih mengsukseskan aku.
Amin.